Kumbung Jamur Dr. Sidik Marsudi

Siapa orang Indonesia yang tak kenal kelapa sawit? Bagi mereka yang berasal dari pulau Sumatera atau Kalimantan pasti sudah sangat mengenal tanaman ini. Setiap tahunnya, menurut data dari Badan Pusat Statistik 2015, produksi kelapa sawit Indonesia mencapai 31.07 juta ton per tahun dari perkebunan dengan total area 11 juta hektar. Minyak sawit adalah komoditi andalan yang dihasilkan dari buah sawit lalu mengikuti produk-produk turunannya seperti margarin, kosmetik, hingga bahan tambahan untuk cokelat batangan.

Ada banyak manfaat yang dihasilkan dari perkebunan kelapa sawit untuk Indonesia. Devisa negara yang dihasilkan dari ekspor minyak sawit mentah (CPO) bukan main nilainya, mencapai Rp. 13.5 triliun. Perkebunan kelapa sawit dalam pengelolaannya menyerap banyak tenaga kerja yang umumnya melibatkan satu keluarga bekerja dalam satu perkebunan yang sama. Di Indonesia ada 3.5 juta keluarga yang dipekerjakan di perkebunan dan pabrik kelapa sawit.

Pemrosesan buah sawit menjadi minyak sawit dan produk-produk turunannya menghasilkan limbah yang dinamakan dengan tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Mengingat produksi kelapa sawit yang mencapai puluhan ton per tahunnya, maka tidak heran jika limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang dihasilkan dari pabrik kelapa sawit juga melimpah, yaitu mencapai 23% dari total tandan buah segar yang diolah. Dari sekian banyak TKKS yang dihasilkan, pemanfaatannya baru sekitar 10% yaitu untuk pembuatan kompos dan bahan bakar boiler.

Potensi pemanfaatan TKKS yang sangat besar ini kemudian ditangkap oleh Dr. Sidik Marsudi, salah satu dosen tetap yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknik Kimia Institut Teknologi Indonesia. Beliau menginisiasi suatu penelitian di bidang bioproses yang bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan TKKS. Ranah riset yang digeluti oleh Dr. Sidik yaitu pemanfaatan TKKS sebagai media pertumbuhan jamur konsumsi (jamur merang dan jamur tiram).

 

Dr. Sidik bersama Dra. Lin Marlina, M.Si dan beberapa mahasiswa membangun kumbung-kumbung jamur sebagai laboratorium alam untuk penelitian ini. Kumbung yang dibangun untuk produksi jamur Merang berukuran 4 x 6 meter sementara untuk jamur Tiram berukuran 4.5 x 7 meter. Saat ini kumbung-kumbung tersebut mampu memproduksi jamur merang dengan kapasitas sekitar 150 kg/kumbung yang dibudidayakan pada media tanam TKKS sebanyak 1 ton). Produksi jamur tiram menggunakan media tanam TKKS memiliki nilai biological efficiency ratio (BER) sekitar 40-50%.

Jamur Merang Tumbuh Baik di Media Tanam TKKS

Selama dalam perjalanan melaksanakan penelitian ini Dr. Sidik Marsudi telah menerima beberapa hibah penelitian yaitu:

  1. Hibah Bersaing 2014-2015 dari Kemenristekdikti dengan ketua Lin Marlina, M.Si.
  2. Hibah Bina Desa 2015 dari Kemenristekdikti dengan Ketua Bagus G Pangestu Aji (Mahasiswa Program Studi Teknik Kimia IT Angkatan 2012).
  3. Hibah Inkubasi Bisnis Teknologi, TBIC-BPPT 2016 dengan Ketua Egi Fahlika (Mahasiswa Program Studi Teknik Kimia IT Angkatan 2014).

Untuk ke depannya, Dr. Sidik dan tim akan melakukan pengembangan proses produksi jamur yang lebih murah dan efesian sekaligus menyiapkan uji coba dengan kumbung jamur yang lebih banyak. Direncanakan ada tambahan kumbung untuk produksi jamur merang dengan ukuran 5 meter x 7 meter.

Dr. Ir. Sidik Marsudi, M.Si bersama Amelia dan Benny, mahasiswa prodi Teknik Kimia ITI, di Salah Satu Kumbung Jamur

Diharapkan dengan jumlah kumbung yang lebih banyak, dapat dilakukan proses komersialisasi poduksi jamur merang dan jamur tiram sekaligus memanfaatkan jamur yang telah diproduksi tersebut sebagai bahan baku pembuatan produk turunan dari jamur seperti kripik jamur rasa keju, mie jamur dan lain lain (makanan), dan olahan jamur anti diabetes, olahan jamur anti kanker (obat-obatan alamiah).

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe
Newsletter